SUKSES NATAL MUDIKA 2009

UCAPAN TERIMA KASIH
KARENA NATAL MUDIKA 2009 ‘BERTABUR BINTANG’
BERJALAN DENGAN SANGAT BAIK

Mungkin ini bisa dikatakan suatu sejarah baru bagi Katolik di Dairi yang dalam hal ini Paroki Sidikalang yakni diadakannya Perayaan Natal Mudika dengan meriah. Natal pada 28 Desember 2009 yang lalu diawali dengan Carnaval sepeda hias oleh Dramban oleh siswa-siswi SMA Santo Petrus Sidikalang, anak-anak sekolah Minggu, sepeda motor oleh mudika dan umat, becak hias, mobil-mobil. Semua yang ikut dalam carnaval adalah partisipasi semua umat, hanya beberapa kendaraan yang diupayakan oleh panitia Natal. Carnaval ini dengan rute kota Sidikalang dan panjangnya carnaval hampir 1 setengah kilometer panjangnya. Walau hujan deras mengguyur saat carnaval tetapi semangat tidak pudar, carnaval tetap dilanjutkan dan menyelesaikan rute yang telah direncanakan. Masyarakat yang dilalui carnaval tumpah ruah ke jalan melihat keramaian tersebut.

Beberapa jam setelah selesai Carnaval, dilanjutkan perayaan misa yang dikhususkan untuk para mudika. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh pastor dari Komisi Kepemudaan KAM yang didampingi oleh Pastor Frans Borta Rumapea O.Carm dan pastor Lukas O.Carm. Sesudah itu, mudika dan umat yang hadir dalam perayan Ekaristi, ikut makan malam bersama.

Malam harinya dirayakan dengan malam hiburan bersama. Pada malam hburan Natal ini, mudika baik yang ada dikota Sidikalang, dan mudika dari stasi-stasi yang diundang, juga mempersembahkan atraksi Natal mereka masing-masing. Perayaan Natal ini memang melibatkan mudika se-paroki, tetapi juga mengundang mudika dari parok-paroki yang dilayani oleh Ordo Karmel yang ada di Keuskupan Agung Medan, dalam hal ini yang bisa hadir adalah mudika dari Kisaran. Pentas hiburan Natal dimeriahkan dengan mengundang artis ibu kota yakniibu Tio Fanta Pinem dan Tri Simenstas. Ibu Tio Fanta Pinem memang merupakan anak Sidikalang, dan beliau sangat senang bisa menghibur umat katolik juga masyarakat Sidikalang dalam perayaan Natal Katolik. Dalam keluarga mereka, memang hanya beliau yang adalah Katolik. Orang tua dan saudara-saudarinya yang ada di Sidikalang, tidak katolik. Singkat kata, perayaan Natal pada malam hari itu sungguh meriah dan ramai. Kompleks Gereja Paroki yang berkapasitas 4 ribu orang penuh. Bahkan penonton yang terdiri dari umaT katolik paroki, stasi-stasi, juga dari kalangan masyarakat umum, tidak beranjak pulang hingga jam 12 malam acara baru selesai dan ditutup.

Mungkin kita berpikir dan melihat kesuksesan acara ini saja? Kurang melihat dan mengetahui bagaimana dan apa yang terjadi pada masa persiapan.

Acara ini diprakarsai oleh Mudika paroki dan panitia diketuai oleh bapak Harapan Boang Manalu yang kerap dipanggil bapak Maholi. Awal mula ide tersebut adalah karena ketika ada perayaan Mudika Paroki dalam rangka 17 Agustus 2009 di stasi Lae Terondi kabupaten Pakpak Bharat, kehadiran mudika sangat kurang, dari semula yang diharapkan 300 orang ternyata yang hadir hanya 125 orang, juga antusiasme umat setempat dirasa sangat kurang. Padahal dalam kegiatan tersebut, paroki sungguh berusaha membantu, bahkan sampe menyediakan kenderaan jemputan untuk mudika yang ada di wilayah pakpak Bharat. Alasan menempatkan kegiatan tersebut di pak-pak Bharat adalah untuk membangkitkan semangat Kekatolikan mudika dan umat di wilayah Pakpak Bharat tersebut. Sebab bisa dikatakan bahwa Katolik di wilayah tersebut masih sangat muda. Di balik itu juga, ada terselip untuk memberi dukungan kepada bapak Remigo Berutu yang mencalonkan diri menjadi Bupati Pak-pak Bharat. Namun semua upaya kurang setimpal dengan hasilnya, kehadiran mudika sangat kurang padahal sudah disediakan kendaraan untuk menjemput dan mengantar, juga animo umat dan orang-orang yang diharapkan membantu saat itu sangat kurang. Pada kegiatan itu, paroki dengan besar hati menanggung semua kekurangan biaya dan memang kurang banyak.
Melihat pengalaman itu, bapak Harapan Boang Manalu dan beberapa mudika berpikir, “Kenapa bisa demikian? Apa jadinya mudika kita bila tidak ada kecintaan terhadapa Gereja Katolik? Atas dasar keprihatinan itu, beliau dan beberapa mudika mengagasi perayaan Natal Mudika se-paroki dengan dimeriahkan oleh Artis dan sebelumnya dimeriahkan dengan Carnaval bersama. Tekad mereka sangat bulat. Untuk itu mereka mempersiapkan apa yang perlu. perlu diketahui bahwa bapak Harapan Boang Manalu adalah seorang pengusaha kecil dan masih muda. Beliau memang bekerja di tengah masyarakat biasa.
Tanpa sepengetahuan pastor paroki, mereka bersama seksi kepemudaan paroki mengadakan rapat, membuat SK panitia dan membuat proposal. Dalam perjalanan waktu kemudian, pastor paroki tau adanya rencana mereka yang sangat wah dan besar. Hal itu tau setelah mereka melapor ke pastor paroki. Pastor paroki kaget dengan acara yang sangat besar. Tapi melihat semangat dan kemauan mereka, pastor paroki akhirnya mendukung kegiatan itu dilaksanakan, tetapi pastor paroki tetap menegur mereka bahwa mereka merencanakan kegiatan yang besar tanpa sepengetahuan dan seijin pastor paroki. Akhirnya proposal diganti dan harus ditanda tangani oleh Pastor Paroki dan DPPH. Hal ini harus karena perayaan ini besar dan membutuhkan dana yang besar, yang tentunya mengharapkan dari para donatur. Pastor paroki memberi semangat dengan mengatakan, “Kalau kalian yakin dengan apa yang kalian rencanakan dan putuskan dan yakin bisa terlaksana, silahkan teruskan, paroki akan siap membantu dan saya akan mempertanggungjawbkan acara ini kepada umat. Dan kalau kalian memang yakin, jangan kalah atau mundur bila mendengar kata-kata umat yang mengatakan bahwa rencana kegiatan itu mustahil akan telaksana dan pasti gagal”

Mudika bersemangat melanjutkan rencana kegiatan tersebut, walaupun banyak kata-kata ‘sindiran’ yang seakan mengatakan bahwa kegiatan ini mustahil akan bisa terlaksana karena disamping membutuhkan keterlibatan umat dan juga membutuhkan biaya yang besar hingga 40 juta rupiah. Bapak Harapan Boang Manalu selama dua bulan penuh secara sungguh-sungguh mempersiapkan kegiatan tersebut. Beliau melobi ibu Tio Fanta Pinem dan Simenstas, juga artis-artis Dairi. Para artis setuju, dan merekapun tidak meminta bayaran sebagaimana mestinya, hanya sekedar uang lelah. Bahkan ibu Tio Fanta tidak mengharapkan bayaran, sehingga beliau kaget dan senang ketika sehari setelah kegiatan selesai, mudika memberi beliau sekedar uang terima kasih dan patung Yesus Kristus.

Semua persiapan yang perlu untuk itu dilaksankan, seksi dana juga berusaha untuk mencari dana dari para donatur. Pastor paroki yang berpikir bahwa kegiatan ini terbukan untuk masyarakat luas, mengusulkan dan mencarikan sponsor dari kalangan pengusaha katolik. Pastor paroki dibantu oleh umat mencoba meloba perusahaan katolik yang ada di Medan dan di Jakarta. Panitia semula sangat berharap adanya sponsor maka kegiatan akan mulus berjalan. Namun akhirnya dari beberapa yang sudah dihubungi, tidak ada satupun yang bisa membantu dengan alasan sudah hari libur karyawan, bahkan pastor paroki sampe merayu, paling tidak bila tidak bisa bantuan dari perusahaan sebagai sponsor, mereka menyumbang dari kantong sendiri sebagai umat katolik. Namun upaya itupun gagal. Semangat mudika sempat melemah. Maka seminggu sebelum kegiatan berlangsung, DPPH mengajak panitia rapat dan paroki mengatakan bahwa apapun yang terjadi akan ditanggung oleh paroki. Paroki meminta Panitia tetap mekerja mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan yang sudah direncankan tersebut, dan paroki akan menyuntikkan dana 10 juta untuk modal awal dan siap menanggung bila kegiatan tersebut merugi. Semangat mudika dan panitia bangkit kembali.
Sehari sebelum kegiatan tersebutm dana yang terkumpul baru sekitar sepuluh juta, padahal kegiatan tersebut membutuhkan biaya 40 juta rupiah. Dalam hal ini, mudika tidak dikutip partisipasi, demikian juga umat paroki, hanya mengharapkan sumbangan sukarela.

Untuk membangkitkan semangat umat paroki untuk membantu, pastor paroki dalam 4 kali misa hari Minggu selalu mengumumkan dan menghimbau keterlibatan umat, demi anak-anak muda yang menjadi Generasi Gereja dan Negara. Pastor paroki juga berusaha menghubungi donatur secara pribadi. hari minggu sehari sebelum kegiatan, pastor paroki mendapat harapan adanya umat yang akan membantu, secara khusus adalah bapak Fidelis Sijabat dari Jakarta bersedia membantu 10 juta rupiah, bapak Robert Sihite dari Medan dan bapak Simon dari Jakarta, juga dari beberapa orang lagi. Bantuan dari para Saudara terebut, sungguh menjadi kekuatan yang membangkitkan semangat dan harapan para Panitia dan Mudika dalam mewujudkan mimpi tersebut. Semangat yang mulai pudar dan diresapi oleh perasaan pesimis untuk terwujud, akhirnya sirna dan semangat baru tumbuh kembali.

Pada 28 Desember 2009, pastor paroki terpaksa ke Siantar karena ada acara sangat penting, padahal hari itu adalah hari H pesta Natal tersebut. Namun panitia dan mudika sudah senang ‘ditinggal’ oleh pastor paroki, karena selama persiapan beliau memberi semangat dan dukungan besar, apalagi sebelumnya meninggalkan sumbangan dari beberapa donatur umat.
Pada perayaan Natal tersebut, apa yang selama ini diragukan dan ditakutkan akhirnya hilang diganti oleh seukacita yang besar. Apa yang selama ini ditakutkan yakni umat paroki kurang memberi dukungan, tapi ternyata memberi dukungan. Memang soal dana umat tidak terlalu memberi banyak, tapi nyatanya umat paroki menunjukkan kebersamaan dan memberi bantuan dengan meramaikan carnaval, umat yang memiliki kendaraan ikut ambil bagian. Ini sudah merupakan suatu mukjijat yang besar. Singkat kata perayaan itu berjalan dengan sangat baik.

Dari sini dapatlah dikatakan bahwa :
1. Sungguh indah bekerja untuk kemuliaan Tuhan, Dia akan menyempurnakan semuanya, walaupun harus kuat menghadapi tantangan berat.
2. Sungguh indah hidup dalam persaudaraan iman Katolik, karena Tuhan pasti akan memberi jalan dan bantuan lewat umat katolik di manapun berada.
3. Sungguh indah setia dalam Tuhan, walaupun ada rasa kesal dan kecewa.
4. Umat katolik paroki ternyata tetap kuat dan satu dalam kebersamaan.
5. Mudika kita adalah Generasi dan harapan Gereja.
6. Mungkin suatu permenungan bagi kita, ‘Berapalah harga uang sumbangan dibanding beberapa orang muda katolik bertobat dan bangga akan imannya?

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak kepada pastor paroki, kepada DPPH, kepada semua umat paroki Sidikalang, kepada para Panitia dan mudka, kepada Saudara-Saudari dan bapak-ibu para donatur yang sudah sudah mendoakan, memdukung dan membantu hingga Pesta Natal Mudika 2009 dapat terlaksana dengan baik. Harapan dan doa kami, semua kebaikan para Saduara akan berkenan di hadapan Tuhan dan akan dibalas-Nya. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: