PENGURUS GEREJA DAN HIDUP IMAN

PENGURUS GEREJA ADALAH PELAYAN
TAPI UMAT JUGA HARUSNYA TAHU BERTERIMA KASIH
dan PENGHAYATAN IMAN

Siapapun pasti setuju bahwa menjadi pengurus Gereja merupakan panggilan pelayanan. Karena itulah mungkin makanya banyak orang yang enggan menjadi pengurus Gereja. Para pengurus berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Namun seringkali ‘penghargaan’ umat dirasakan kurang.

1. Saat Pesta Pernikahan

Saat pesta pernikahan, keluarga yang mau berpesta meminta dan kadang seakan memaksa untuk mengurusnya. Pernikahan lebih pada pesta keluarga tertentu yang harusnya pihak yang berpesta bertanggungjawab penuh. Namun kenyataannya:
– Ongkos mengurus ke parokipun tidak diberi keluarga yang berpesta, padahal untuk mengurus ke paroki butuh biaya ongkos. Nah tentu juga waktu mengurus ke paroki, pengurus harus makan siang. Untuk makan siangpun juga tidak pernah di beri pihak keluarga yang berpestas. Sehingga kadang untuk urusan itu dikeluarkan dari kas stasi atau kantong si pengurus. Pihak keluarga tertentu yang berpesta, tetapi malah stasi atau pengurus dikorbankan. Pengurus sudah tinggalkan pekerjaannya, eh..harus keluarkan biaya pula dari kantong pribadi.
– Sesudah selesai acara pemberkatan di Gereja, hampir tidak pernah pihak keluarga memberi ucapan terima kasih kepada para pengurus yang bertugas. Tentu bukan soal banyaknya, tapi tanda nyata ucapan terima kasih.
– Ketika pesta berlangsang, biasanya pengurus duduk-duduk di luar atau di warung, nunggu di panggil memimpin doa makan. Pihak yang berpesta lupa sama pengorbanan pengurus Gereja, baru ingat waktu mau buka doa makan.
2. Saat Kematian
Saat peristiwa ini juga lumayan seru ‘nasib’ pengurus Gereja:
– Mulai dari saat seseorang meninggal sampe pemakaman, pengurus harus siap sedia bertugas.
– Saat pemakaman juga seringkali molor, tetapi pengurus harus selalu siap sedia menunggu. ekarang ini rasanya agak ganjil, yang mana orang sudah biasa memakamkan pada waktu malam, di atas jam 6 sore. Padahal, malam yang gelap biasanya jadi lambang: dunia gelapan, dunia para roh-roh bergentanyangan, dll. Karena dimakamkan saat malam atau gelap, akhirnya pemakaman yang merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi yang meninggal, menjadi kurang nilainya.
3. Merokok di dalam Gereja, di Luar Gereja saat Ibadat / Misa berlangsung.
Hal ini nampaknya banyak terjadi di kalangan umat, bahkan oleh pengurus Gereja sendiri. Hampir di setiap stasi terjadi bahwa umat merokok di dalam Gereja entah itu sebelum ibadat/misa atau sesudah perayaan selesai. Wah, Gereja yang adalah tempat doa dan rumah Tuhan diperlakukan sama dengan kedai tuak. Maka penuhlah Gereja dengan asap rokok dan puntung roko bererakan di mana-mana. Kadang kala ibu-ibu maupun anak-anak gak mau kalah, mereka dengan seenaknya membuang sampah di dalam Gereja. Aneh ya, di rumah nyuruh anak agar rajin nyapu rumah, tapi kog di rumah Tuhan sendiri dengan seenaknya buang sampah? Apa karena Gereja gak dianggap sebagai rumahnya atau miliknya juga?
Sering pula umat dan bahkan Pengurus Gereja sendiri pada saat ibadat atau misa masih berlangsung, mereka keluar dan merokok di luar. Waktu Misa Krisma di bersama Uskup Pius Datubara ketika misa Krisma di Stasi Sigalingging juga ada yang umat yang dengan santainya merokok di belakang.

Ini salah satu contoh yang dapat direkam WP (Warta Paroki), pada saat Misa masih berlangsung, mereka keluar dan merokok di luar. Yang merokok dalam gambar yang kami rekam adalah termasuk para pengurus Gereja.
Umat Katolik, iman juga harus dinyatakan dalam hidup dan perbuatan-perbuatan baik!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: