MEMASUKI GEREJA SANTO PETRUS STASI KABAN JULU

MEMASUKI GEREJA SANTO PETRUS
STASI KABAN JULU
PAROKI ‘MARIA PERTOLONGAN ORANG KRISTEN
SIDIKALANG – KEUSKUPAN AGUNG MEDAN

1. KILAS BALIK PEMBANGUNAN

Gereja Stasi Kaban Julu merupakan salah satu stasi tertua di di Paroki Sidikalang, setelah Stasi Sitinjo. Gereja katolik di stasi ini berdiri sejak 1968. Jumlah umat lumayan banyak dan Gereja yang ada dirasa sudah kurang layak lagi dan mendesak untuk dibangun yang baru, juga mengingat menara Gereja terpaksa harus dirobohkan karena sudah retak akibat gempa nias tahun 2006. Lebih menarik lagi bahwa di stasi ini terdapat makam Romo Koning O.Carm.
Sudah lama direncanakan hendak mewujudkan mimpi tersebut, namun karena situasi dan kondisi belum memungkinkan, baru pada pertengahan tahun 2006 pembangunan dapat diwujudkan.

Peletakan Batu Pertama pembangunan dilaksanakan dalam Misa di lokasi yang dipimpin oleh pastor paroki. Dalam awal pembangunan ditekankan bahwa pembangunan Gereja harus diupayakan dengan kerjasama dengan semua umat, tidak hanya melimpahkan kepada panitia. Kerjasama itu, baik itu lewat Dana Partisipasi, Tenaga gotong Royong, saling mendukung dan terutama juga kejujuran dalam bekerja. Prinsip lain dalam pembangunan adalah membangun Gereja yang layak, bertahap dan kokoh, bukan sekedar jadi dan terburu-buru.
Pada Awalnya semua umat antusias dalam pembangunan, namun dalam perjalanan semangat mulai melemah dan sempat pembangunan itu berhenti.Berhentinya
pembangunan bukan hanya karena ketiadaan atau kekurangan dana tetapi juga semangat umat maupun panitia yang mulai mengendor juga umat tidak sabar.Pembangunan berhenti pas pada waktu dinding sudah selesai, dan sempat berlangsung sampai setahun lamanya.

2. Semangat Baru
Semangat baru muncul kembali. Setelah lama berhenti, umat bersemangat kembali untuk melanjutkan pembangunan Gereja, walau dana masih tetap minim. Dana yang masih minim diatasi dengan menggunakan bahan-bahan bangunan atau sisa
bongkaran Gereja paroki yang masih layak digunakan.
Umat kembali bersemangat melanjutkan pembangunan, terutama Vorhanger yakni bapak L. Sitanggang hampir setiap hari selama setahun bekerja di Gereja. Dia seakan memberi teladan dan semangat bagi umat, tetapi nampaknya masih banyak umat yang belum memberi hati untuk berkorban dalam membangun Gereja, bahkan ada pula bah yang hanya jadi tukang protes, juga ‘sengaja menghindar yang seakan dirinya bukan katolik.’ Pembangunan dapat berlanjut karena pengorbanan beberapa pihak khususnya saudara Jony Sigalingging (mudika dari stasi ) dan Frans Jumadi (mudika yang tinggal di pastoran).

3. Memasuki Gedung Baru
Pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam 22 November 2009, Gedung Gereja yang masih dalam pembangunan dimasuki. Bangunan Gereja memang belum sempurna, namun sudah bisa digunakan untuk beribadah.
Hal ini juga diperbuat dengan harapan umat kembali disemangati untuk menyempurnakan pembangunan Gereja.
Pada saat memasuki gedung baru, juga sudah ada Altar baru (Sumbangan dari Bruder Gerardus Ofm.Cap, Salib besar (sumbangan dari uskup emeritus Mgr.A.G.Pius Datubara Ofm.Cap), patung Bunda Maria (sumbangan dari Jakarta).
Misa memasuki Gereja baru dipimpin oleh Pastor Antonius Manik O.Carm. Perayaan tersebut dihadiri oleh semua umat juga para Dewan Pastoral Paroki.Perarakan dimulai dari Gedung Gereja yang lama. Pastor paroki berharap, umat beresemangat kembali untuk menyempurnakan bangunan Gereja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: