KARMEL DAN REGULA

Mengenal KARMEL lebih dalam lewat Perayaan Syukur 800 Tahun Regula Karmel di Sidikalang, 29 Juni – 1 Juli 2009IN

OBSEQUI JESU CHRISTI
(Cita-cita Mengikuti Yesus Kristus)

Ordo Karmel

Ordo Karmel

Sudah hampir setengah abad Ordo Karmel berkarya di Keuskupan Agung Medan. Sampai sekarang delapan paroki KAM dilayani oleh pastor-pastor Karmel, yaitu Sidikalang, Sumbul, Parongil, Tigalingga, Pasar Merah, Perdagangan, Tanjungbalai, dan Kisaran. Dalam sepanjang sejarah, banyak orang yang menghidupi dan menghayati spiritualitas Karmel, beberapa menjadi Santo dan Santa yang terkenal dalam Gereja, seperti, Yohanes dari Salib, Theresia dari Avila, Theresia dari Lisieux, dan yang lainnya. Kendati demikian, tentu masih banyak orang belum mengenal Ordo yang sudah tua ini. Orang bisa mengajukan pertanyaan, misalnya: Siapakah pendiri Ordo Karmel? Apa yang menjadi kekhasan Karmel? Bagaimana semangat (spiritualitas) Karmel itu dihidupi? Berikut paparannya sebagaimana ditampilkan dalam operet yang dibawakan oleh Muda-mudi dari Paroki Pasar Merah dan Perdagangan pada Perayaan Syukur 800 tahun Regula Karmel dipadu dengan Carmel Cup di Sidikalang 29Juni-1Juli 2009.

Dari Berperang Melawan Sesama Ke Berperang Melawan Setan

Pada abad ke-12 dan ke-13 banyak orang menyeberang dari Eropa ke Tanah Suci, di mana Yesus sendiri pernah hidup dan wafat di situ, dan tanah itu dianggap milik Tuhan. Mereka mau merebut tanah suci kembali dari tangan orang Sarasin dengan jalan peperangan.

Sebagian orang yang menyeberang ke Tanah Suci itu insyaf bahwa kekerasan bukanlah senjata yang tepat untuk mendirikan Kerajaan Allah di dunia ini. Mereka berpikir bahwa peperangan memaksa orang untuk berbuat kasar dan kejam. Mereka melihat bahwa keinginan merebut kembali kekuasaan atas tanah suci demi Kristus, sering diliputi oleh hati yang dikuasai oleh musuh Tuhan, yaitu setan. Oleh karena itu, memerangi setan di hati jauh lebih baik daripada merebut kekuasaan atas orang lain Dengan menggunakan senjata Allah lebih baik daripada menggunakan kekerasan perang.

Di antara prajurit dan peziarah itu ada yang mencari kesunyian di tempat-tempat yang dikenang karena kehadiran Tuhan, atau karena karya-karya para nabi. Ada yang mencari kesunyian di Gunung Karmel, yang dikenal sebagai tempat tinggal Nabi Elia. Lambat laun jumlah orang yang bertapa di gunung ini semakin banyak dan semakin mendesak pula sebuah pedoman hidup sebagai pengikat bagi mereka. Untuk itulah St. Albertus, Patriarkh Yerusalem sekitar tahun 1207 menulis Formula Vitae (Pedoman Hidup) bagi para pertapa di Gunung Karmel atas permintaan mereka sendiri. Inilah yang biasa disebut sebagai Regula Karmel, yang kelak disempurnakan secara redaksional dan disahkan oleh Paus Innocentius IV dengan bulla Quae Honorem Conditioris pada 1 Oktober 1247.

Sejarawan Gereja, Yakobus dari Vitry, pernah mengunjungi Gunung Karmel pada tahun 1237 menuliskan:

“Dari pelbagai penjuru dunia, dari setiap suku, bahasa dan bangsa di bawah langit datanglah para peziarah yang saleh membanjiri Tanah Suci. Mereka tertarik oleh suasana saleh dari tempat suci … Mereka meninggalkan keramaian dunia. Karena suka mengabdi kepada Tuhan, mereka memilih tempat tinggalnya sesuai dengan cita-cita dan hidup tapa mereka. Demikian pula ada orang yang mau mengikuti jejak dan teladan pertapa ternama, nabi Elia. Sebagai pertapa mereka hidup di pegunungan di atas kota Porphyria (= sekarang Haifa), di dekat sumber yang disebut Sumber Elia. Mereka hidup dalam kesunyian dan tinggal dalam pondok mereka masing-masing, bagaikan dalam sarang lebah di mana mereka mengumpulkan madu rohani yang manis, yang bersumber dari Allah sendiri”.

Mungkin sebagian dari para pertapa itu meninggalkan tanah airnya untuk berperang melawan sesama manusia. Tetapi akhirnya mereka merasa dipanggil untuk berperang melawan setan; pertama-tama di dalam hati mereka sendiri, dan akhirnya melawan setan di kancah dunia ini.

Menjadi Manusia Baru

Kesederhanaan dan kemiskinan injili merupakan trend hidup yang mewarnai setiap gerakan rohani pada zaman itu, sebagaimana yang dapat ditemukan dalam gerakan rohani yang dimotori oleh St. Fransiskus dari Assisi dan St. Dominikus. Hal yang sama ditemukan juga dalam pedoman hidup singkat yang disusun bagi para pertapa di Gunung Karmel. Selain itu, mereka mengutamakan kesunyian dan keheningan dalam hidup bertapa. Namun persaudaraan tetap memberikan warna tersendiri ke dalam hidup mereka. Sebagai saudara mereka menyelesaikan segala persoalan dengan musyawarah. Dalam musyawarah mereka memilih seorang pemimpin, membagi pondok-pondok tempat bersemuka dengan Tuhan, dan membahas apa yang menyangkut kepentingan mereka bersama serta kemajuan masing-masing. Bersama-sama mereka berdoa ibadat harian, merayakan Ekaristi, makan sambil mendengarkan bacaan. Bersama-sama pula mereka memiliki apa yang didermakan kepada mereka dan yang dibagikan oleh prior (pimpinan) kepada mereka menurut kebutuhan masing-masing ( bdk. Kis 2: 41-47 )

Mereka mencari tempat sunyi untuk melawan setan dalam hati mereka, dan berharap agar Tuhan sendirilah yang akan berkuasa di situ. Mereka ingin bertemu Tuhannya dengan cara merenungkan firman-Nya dan berdoa siang malam. Itulah manusia baru yang dicita-citakan. Keheningan dan kesunyian, pantang dan puasa, pekerjaan dan doa, semuanya harus menunjang hidup ini. Keheningan dan kesunyian membuat orang ingat akan Tuhan yang selalu hadir, mendorong orang untuk melihat dirinya dalam terang kekudusan Tuhan serta melihat di mana musuh bersarang dalam hatinya. Dalam kesunyian orang dikuatkan sehingga mau mengambil senjata iman, harapan dan cinta sampai memperoleh kemenangan.

Puasa dan pantang mempertajam penglihatan hati dan membantu orang merasakan kehausan dan kelaparan hatinya. Dengan pekerjaan tangan seseorang menjamin kebutuhan hidup yang sederhana dan dapat membantu saudaranya yang lebih miskin. Berkat pekerjaannya ia bersatu dengan sesamanya dan tidak mudah diganggu oleh setan dengan pikiran yang mengacau ( lih.1 Tes 5: 12 – 22 ).

Apa yang dahulu kala menunjang hidup para pertapa di padang gunung Mesir, menunjang juga para pertapa di gunung Karmel. Semakin banyak mereka membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, semakin mudah mereka berdoa kepada-Nya. Dengan demikian mereka berubah menjadi manusia baru. Hati yang tadinya masih terbagi oleh pelbagai kecenderungan, sekarang hanya mengenal satu keinginan: mengabdi kepada Tuhan. Semua sarana ini diuraikan secara singkat oleh Santo Albertus dalam Formula Vitae: kesunyian tempat dan keheningan pondok, kerja tangan, saat-saat doa, musyawarah, puasa dan pantang, serta keutamaan hati yang dilambangkan dengan senjata rohani.

Menyeberangi Laut: Berkat Pertolongan Bunda Maria

Maria Bunda Karmel

Maria Bunda Karmel

Letak Gunung Karmel berhadapan dengan laut Mediteran (laut Tengah). Para pertapa yang tinggal di gunung itu ketika melihat ke laut, di mana awan naik, menurunkan hujan dan menyuburkan tanah di sekitar itu, teringat akan Nabi Elia yang melihat hal yang sama dalam Perjanjian Lama dan pada masa ini hal yang sama mereka lihat sebagai lambang Maria. Mereka mendirikan kapel di tengah-tengah pertapaan itu dan mendedikasikannya bagi Bunda Maria Perawan Murni yang mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Kristus. Maria menjadi pelindung bagi kapel itu di mana para pertapa merasa aman di bawah naungan dan perlindungannya. Para pertapa itu merasa bahwa mereka dimiliki dan dilindungi oleh Maria. Karmel pun berbakti dan mengikuti teladannya. Sekitar tahun 1238 beberapa pertapa memutuskan untuk menyeberang laut dan kembali lagi ke Eropa akibat pelbagai tantangan pada masa peperangan yang mengancam itu. Setibanya di Eropa pola hidup kaum pertapa ini tidak serta merta diterima oleh masyarakat. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kehidupan dalam kesederhanaan dan kemiskinan injili. Pada masa yang sama bermunculan berbagai lembaga religius dan menjadi hal yang wajar apabila seorang pertapa menjadi seorang pewarta. Dan memang pewartaanlah yang bisa menjamin terpenuhinya nafkah mereka dan dapat bertahan hidup dalam iklim Eropa yang sangat berbeda dari kehidupan sebelumnya di Gunung Karmel. Baru sekitar tahun 1300, Paus Bonifasius VIII mengakui dan mengesahkan Ordo ini sepenuhnya, seperti halnya Ordo Fransiskan, Dominikan dan Agustinian. Selama dalam perjalanan menyeberangi lautan ini, Bunda Maria telah melindungi mereka.

Situasi hidup yang baru di Eropa, yaitu sebagai kelompok pewarta Injil dengan tetap menjunjung tinggi cita-cita awali mengharuskan Kapitel Jenderal 1247 meminta kepada Paus Inosensius IV agar pedoman hidup ( Formula Vitae ) mereka “dilonggarkan” sesuai dengan keadaan baru. Bagaimanapun, pelonggaran ini berdampak bagi kelanjutan keseimbangan hidup kelompok ini. Orang meraba-raba batas antara keheningan pertapaan dan kebisingan kota, kesederhanaan Injil dan tuntutan pewartaan. Kendati demikian, Kapitel Jenderal tahun 1247 ini telah membuka pintu ke suatu masa depan yang baru.

Dalam rentang waktu seratus tahun, pertapaan kecil yang tersembunyi di Gunung Karmel sudah berkembang menjadi suatu Ordo. Mereka sudah mempunyai sekitar 150 biara dalam sepuluh provinsi. Meskipun ombak laut “mengamuk”, mereka berani menyeberang. Tidak saja menyeberang laut menuju daratan Eropa, tetapi juga ke suatu masa depan yang baru. Dalam perjalanan itu mereka merasakan perlindungan Bunda Maria. Menurut legenda, Santo Simon Stock, yang menjadi seorang Prior Jenderal pada abad ketiga belas, selalu memohon dan berharap pada Maria. Akhirnya Ordo Maria ini berlabuh dengan aman di tengah-tengah Ordo Mendicans (= para pengemis) lain dan siap untuk mewartakan Sabda Allah yang mereka renungkan siang malam di dalam kesunyian. Hubungan Maria dengan anak-anaknya itu diungkapkan dalam rupa skapulir suci sebagai tanda perlindungan dan sekaligus menjadi tanda kebaktian. Seluruh keluarga besar Karmel mengenangkan segala kebaikan Bunda Maria dengan penuh syukur pada Hari Raya Maria dari Gunung Karmel, pada tanggal 16 Juli.

Nabi Elia sebagai Pendiri?

Nabi Elia

Nabi Elia

Berbeda dengan ordo atau kongregasi lain, Ordo Karmel tidak mempunyai seorang pendiri. Dalam usaha mempertahankan hidup, Ordo ini makin menyadari peranan teladan Nabi Elia. Mereka mengangkat dan menganggap Nabi Elia dari Tisbe, seorang tokoh Perjanjian Lama yang dipanggil oleh Tuhan untuk menyelamatkan perjanjian umat dengan Allahnya, sebagai teladan utama mereka. Elia hidup di Gunung Karmel, bersemuka dengan Allah dan berjuang dengan gigih melawan segala berhala. Tradisi ini pun diwariskan juga kepada Ordo Karmel, yang merayakan pestanya pada tanggal 20 Juli. Hidup kontemplatif Karmel berilham pada nabi Elia. Elia juga giat bekerja untuk Allah. Nabi Elia sebagai fundator dan inspirator. Para Karmelit melihat juga di situ suatu petunjuk bagi karya kerasulan, khususnya terhadap orang-orang kecil yang hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan yang mulai mereka tangani di Eropa.

 

Familia Carmelitana (Keluarga Karmel) Indonesia

Misa Karmel CUP

Misa Karmel CUP

Karmel masuk ke Indonesia lewat perantaraan dua martir, Beato Dionysius dan Redemptus. Mereka tinggal di Goa, India. Dari sana mereka berlayar ke banyak tempat untuk mendampingi para saudagar. Pada tahun 1636, kedua misionaris ini menemukan ajalnya di Aceh karena kesetiaan pada keyakinan agamanya, pada pribadi Kristus.

Setelah kedua martir itu meninggal, pada tahun 1923 Karmel masuk kembali ke wilayah Indonesia memperkuat barisan pewartaan Injil di Jawa Timur. Mereka melayani umat dengan pusat misinya di kota Malang. Pada tahun 1965 sejumlah anggota Ordo ditugaskan untuk berkarya di Keuskupan Agung Medan dengan pusat pelayanan di daerah Dairi, Sidikalang. Kini Ordo Karmel telah berkarya di delapan paroki, yaitu Sidikalang, Sumbul, Parongil, Tigalingga, Perdagangan, Kisaran, Tanjung Balai, dan Pasar Merah (Medan)

Berikut daftar Keluarga Karmel yang tersebar di Indonesia

  1. Biarawan Ordo Karmel (O.Carm)
  2. Biarawati Kontemplatif Karmelites (O.Carm)
  3. Biarawan Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD
  4. Biarawati Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD)
  5. Hermanas Carmelitas (H.Karm)
  6. Suster Carmelite Missionaries (CM)
  7. Suster Putri Karmel (P.Karm)
  8. Biarawan Carmelitae Sancti Eliae (CSE)

Banyak Kongregasi lain yang berafiliasi (bergabung) dengan Ordo Karmel. Selain itu, ada dari kalangan kaum awam yang menghayati spiritualitas Karmel, seperti:

  1. Saudara-Saudari Tertiae Carmelitarum (TOC) (T.Ocarm
  2. Saudara-Saudari Ordo Carmelitarum Discalceatorum Sekulir (OCDS
  3. Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM)
  4. Saudara-Saudari Carmelite Missionary Secular (CMS)

Dari mana perayaan 800 tahun REGULA KARMEL ?

REGULA sebagai pedoman hidup bagi para kelompok Karmel diberikan oleh Uskup Albertus – Patriakh Yerusalem. Dalam pemberian Regula tersebut tidak diterakan tanggal dan tahun pasti, namun Ordo Karmel mengambil kepastian historis masa tugas Patriakh Yerusalem tersebut yaitu tahun 1207 – 1211. Santo Albertus wafat terbunuh di Yerusalem. Atas dasar masa tugas inilah Ordo Karmel diperkenankan merayakan 800 tahun antara tahun 2007 – 2011 sesuai dengan situasi masing-masing. Untuk Komisariat Karmel Sumatera merayakannya antara 29 Juni – 1 Juli 2009. Sedangkan di Malang sudah merayakannya pada tahun lalu

(Sorang Tumanggor, S.Ag, dari berbagai Sumber.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: