PERJALANAN ROHANI BUNDA MARIA

 

PERJALANAN ROHANI BUNDA MARIA
ADALAH PERJALANAN IMAN KITA
Fr. Robertus Robi S., O.Carm.

Santa Maria
Santa Maria

 

Bulan Oktober ditetapkan Gereja Katolik sebagai Bulan Maria, Bunda Tuhan Kita Yesus Kristus. Devosi terhadap Maria yang sangat populer di hati umat beriman diberi tempat yag istimewa selama bulan ini. Bunda Maria adalah Murid Tuhan yang sejati, dia taat pada kehendak Allah, mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah, setia mengikuti Yesus bahkan sampai di bawah salib-Nya. Ia solider dengan penderitaan sesama dan sangat rendah hati. Bunda Maria adalah teladan bagi seluruh umat beriman. Kita harus belajar dari perjalanan rohani Bunda Maria kalau mau menjadi murid Tuhan yang sejati. Menjadi murid Yesus tidak cukup hanya dengan identitas Katolik dan mengikuti upacara ritual saja, melainkan mau diubah dan disempurnakan dalam pertobatan diri terus menerus. Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Luk 9:23).”
Perjalanan iman Maria adalah perjalanan batin dari kita, setiap orang Katolik. Dengan menatap, merenungkan, dan mendalami perjalanan Maria, kita bisa mengolah hidup batin kita. Seperti Bunda Maria, hidup imannya bukanlah sesuatu yang statis (tak bergerak), melainkan suatu proses bergerak, jatuh bangun, berkembang layu, maju mundur. Proses yang dinamis ibarat perjalanan yang membutuhkan energi, kekuatan, tujuan dan arah. Ada kalanya tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Kadang bosan, jenuh, capek, krisis iman, tak jarang pula juga merasa sukacita, damai, tentram dan kasih. Itulah dinamika hidup rohani kita. Bilamana kita kepayahan dalam perjalanan ini, Sabda Yesus menguatkan kita, “Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat 11:28).” Tahap demi tahap kita mau melangkah maju dalam hidup rohani bersama Bunda Maria.
Ada beberapa tahap perjalanan rohani Bunda Maria:

A. TAHAP I: TAHAP MENGANDUNG YESUS
1. Maria menerima Kabar Gembira dari Malaikat Allah (Lukas 1:28-38)

 

Pengalaman Maria yang pertama dalam perjalanan rohaninya adalah menerima kehidupan baru yang akan bersemi dalam dirinya terlebih bukan seorang manusia biasa melainkan Putera Allah. Maria, gadis desa nan muda, mendapat Kabar yang sangat luar biasa dari malaikat bukan lewat mimpi melainkan eluruh hidupnya pada Yesus.
Pedang dukacita
 
2. Maria membawa hartanya ke bait Allah untuk mempersembahkan diri seutuhnya bersama-Nya kepada Allah.
 
Putranya itu adalah segalanya bagi Maria. Hanya bagi putranya itulah Maria akan hidup. Simeon digerakkan oleh Roh Kudus, mengenali Maria dalam kemiskinan dan keagungannya. Ia mendekati Maria dan mengambil Yesus dari tangannya. Simeon berpaling kepada Maria dan mengatakan kata-kata yang meramalkan apa yang harus diderita oleh perempuan perkasa itu, karena ia hanya mau menjadi hamba Allah semata-mata.
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Tetapi kelak suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:34-35)
Maria telah kagum akan kata-kata yang diucapkan oleh malaikat Gabriel, Elisabeth, para gembala dan para majus, Simeon dan Hana yang berisi pujian bagi putranya. Ia tidak menginginkan penghormatan mengabdi Allahnya. Di sini Maria mendapat pelajaran dari Roh Kudus bahwa tidak mungkin mengabdi Yesus Kristus tanpa menderita. Simeon meramalkan bahwa Putranya akan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Putranya akan menderita, tetapi Maria pun akan mendapatkan suatu pedang dukacita yang menembus hatinya.
Salah satu penderitaan paling besar yang dapat dialami oleh seorang ibu ialah menyadari, bahwa hidup yang diberikannya kepada anaknya, tidak dapat dimiliki untuk selamanya. Naluri Maria sebagai ibu hancur sama sekali pada hari Anaknya menyadarkan ibu-Nya, bahwa Ia tidak bergantung dari ibu-Nya dan bukan milik ibu-Nya sepenuh-penuhnya. Maria berkembang menjadi semakin gagah berani, itu bukan karena ia diminta Allah menyerahkan Yesus Putranya kepada rencana Allah yang bertentangan dengan keinginan kodratinya. Memang, ada penderitaan karena itu. Maria berkembang lebih karena Allah meminta dia (dalam iman) untuk mempunyai peranan lebih besar dalam turut menderita bersama Kristus melawan kekuatan-kekuatan jahat.
Maria menderita ketika bersama Yusuf mencari Anaknya yang hilang tiga hari, lalu menemukan Dia di bait Allah sedang mengajar para ahli kitab.
“Ketika orangtua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.” (Luk 2:48-50)
Maria tidak mengerti. Ia perkasa, bukannya karena ia menderita, melainkan karena dalam penderitaannya Ia menyerahkan diri kepada kehendak suci Allah dalam iman dan ketaatan penuh kasih. Pedang menembus dia terus-menerus pada tahun-tahun yang cukup tenang dan penuh kegembiraan itu di Nazaret, karena Roh terus-menerus menyiapkan dia untuk menjadi lebih siap sedia berkata “ya” kepada apa pun yang menantikan dia dalam hubungannya dengan Yesus.
Pada pesta perkawinan di Kana, Maria berpaling kepada Yesus dan hanya berkata, “Mereka kehabisan anggur”. Yesus menjawab “Mau apakah engkau dari pada-Ku, wanita? Saat-Ku belum tiba.” Jawaban itu tampaknya berbunyi sebagai suatu teguran keras; suatu penderitaan lain, karena Maria diingatkan bahwa ia tidak boleh memiliki Putranya yang datang untuk sesuatu yang lebih besar daripada hanya menjadi Putranya saja. Penderitaan Maria yang sejati ialah karena oleh Roh Kudus ia menjadi sadar, bahwa Yesus memanggil dia untuk mengambil bagian dalam “saat”-Nya pada waktu Yesus mencapai puncak hidup-Nya di dunia.
Ketika Yesus ditinggikan di salib, di mana bagi Yesus saat itu merupakan saat kekosongan mutlak dalam kemiskinan roh dan penyerahan tuntas kepada kehendak Bapa karena kasih-Nya kepada kita manusia. Pada saat itu gelap gulita bagi Maria. Hatinya tersobek menjadi dua waktu menyaksikan pandangan mengerikan, melihat Putranya mengalami sakrat maut sampai mati; pada saat itu Maria pun memasuki kesatuan penderitaan dengan Yesus. Maria bersama Putranya beralih dari sikap memegang erat-erat hidupnya ke sikap memberikan sepenuhnya, bahkan sampai puncak kesakitan maut jasmani dan rohani. Penderitaan paling besar dan panggilan terbesar akan keberanian manusiawi terdapat dalam kasih, yaitu melepaskan kuasanya yang terakhir yakni hidupnya sendiri dan bahkan tidak lagi berpegang pada Yesus sebagai Putranya. “Fiat”nya (=terjadilah) yang diucapkan untuk menerima kabar sukacita sekarang mencapai puncak pemenuhannya di bawah Salib.
Karena Maria cukup gagah berani untuk mempersilahkan Allah memilikinya secara penuh dan berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya dengan dia, maka ia menderita bersama Kristus. Meskipun begitu, Perempuan perkasa tersebut dalam kesakitannya dimuliakan dengan menjadi ibu suatu keturunan, suatu bangsa baru yang banyak melebihi bintang-bintang di langit, melebihi pasir pantai di laut.
Maria menjadi ibu rohani kita, bukan semata-mata karena Yesus menyerahkan dia kepada Yohanes. Maria adalah ibu kita karena ia adalah ibu Kristus. Yesus Kristus yang lahir dari Maria dan Yesus Kristus itu juga yang di Kalvari membentuk Tubuh Mistik-Nya yang beranggotakan kita merupakan satu kesatuan. Dalam diri Yesus kita mendapatkan kelahiran rohani kita dan keberadaan kita sebagai anak-anak Allah. Karena Maria melahirkan Yesus, maka ia juga ibu kita.
Keberanian kita menjadi orang Kristen

Sebagai orang Kristen, penderitaan yang paling besar akan datang di dalam batin kita, yaitu pergulatan rohani untuk mempersilahkan Yesus Kristus menjadi penguasa mutlak dalam hidup kita. Kita melekat pada benda, maka kita berusaha menemukan kedirian kita melalui milik. Tetapi Yesus datang memasuki hidup kita dan minta supaya kita melepaskan segala-galanya agar kita memiliki Dia sebagai segala-gala kita.
“Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Mrk 10:21)
Selama cara kita mengikuti Yesus tetap hanya berupa memenuhi perintah-perintah longgar dan lahiriah, mudah saja kita menjadi orang Kristen. Tetapi, apabila Allah mulai meminta perlibatan seluruh hidup kita secara lebih penuh untuk mengabdi-Nya, mulailah terasa adanya banyak ikatan. Kita menggeliat-geliut, menentang, mencari dalih, memikir-mikirkan alasan untuk membenarkan diri, menunda-nunda untuk menjawab “ya” secara tuntas. Pokoknya seperti pemuda kaya itu, kita pergi dengan sedih karena kita tidak siap untuk membayar harga yang diminta Yesus. “Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Mrk 10:22)

 

 

B. Tahap Kedua: Tahap Selama Perjalanan Hidup Bersama Dengan Yesus
Perjalanan rohani Maria semakin terinternalisasi lewat pengalaman hidup bersama Yesus kurang lebih 33 tahun. Sebagai Ibu Yesus, Maria bergaul akrab dengan Sang Putera dalam ikatan batin yang erat. Maria dan Yusuf mendidik Yesus dengan baik dalam suasana iman dan tradisi Israel. Namun mereka juga dibentuk dan dididik oleh Yesus dalam pengalamannya sehari-hari dengan Yesus. Tak jarang Maria, ‘menyimpan semua perkara itu dalam hatinya (Luk 2:57)’ dan dia menjadi murid Yesus yang sejati dari awal hidup Yesus sampai kematian Yesus di kayu salib, bahkan setelah kebangkitan-Nya dan turun-Nya Roh Kudus.
1. Iman Yang Hidup Sebagai Anugerah Allah: Peristiwa Yesus Dipersembahkan ke Bait Allah
(Luk 2:21-41)
Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus ke Bait Allah di Yerusalem karena mereka tahu bahwa Anak mereka adalah Anugerah Allah. Anugerah Allah yang memberikan Hidup yang sejati bagi manusia. Yesus, Anugerah Hidup yang sejati, mengundang manusia terutama bagi Maria dan Yusuf untuk memelihara dan menghayati kehidupan bersama Yesus dalam tubuh, jiwa dan roh. Dengan mempersembahkan Yesus ke Bait Allah, Maria dan Yusuf mengakui bahwa Yesus adalah milik Sang Pencipta. Ada suatu ketidakterikatan dalam keterikatan, artinya Yesus adalah ‘anak mereka, milik mereka’, tetapi pada saat yang sama Yesus adalah milik Allah, bukan milik mereka. Demikian juga iman kita atau kehidupan kita adalah milik Allah yang dianugerahkan kepada kita. Apakah iman atau kehidupan kita menghasilkan buah-buah kebaikan? Apakah kita hanya mau diuntungkan dan menikmati sendiri buah-buah rohani itu? Yesus adalah Persembahan Yang Hidup dan Sejati bagi Allah, keselamatan diberikan cuma-cuma bagi mereka yang percaya.
2. Hidup Yang Penuh Bahaya: Keluarga Kudus Mengungsi ke Mesir (Mat 2:13-23)
Kehidupan Maria dan Yusuf tidak terlepas dari bahaya, yaitu ancaman Raja Herodes. Maria, Yusuf dan Kanak-Kanak Yesus harus mengungsi ke Mesir. Kanak-Kanak Yesus menjadi ancaman bagi Herodes yang gila kekuasaan untuk melenyapkan setiap bayi lahir di Bethlehem yang dianggap sebagai Raja Orang Yahudi. Allah melalui malaikat-Nya memperingatkan dan melindungi Keluarga Kudus Nazaret ini dari bahaya ancaman Herodes.
Iman kita juga penuh dengan ancaman bahaya, yaitu kemalasan, kedangkalan iman, kesombongan rohani, dan keinginan-keinginan daging dan duniawi. Bahaya dapat muncul dari dalam diri sendiri atau pengaruh dari luar diri kita. “Waspadalah dan berjaga-jagalah, jangan sampai Hari Tuhan datang ke atas dirimu seperti pencuri di waktu malam.”
3. Kegelapan Iman: Maria dan Yusuf Cemas Mencari-cari Yesus (Luk 2:41-52)
Setiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah dan mengikut sertakan anaknya Yesus. Dalam perjalanan pulang sehari perjalanan, Maria dan Yusuf menyangka Yesus ada di antara kaum keluarga dan kenalan mereka tetapi mereka tidak menemukan Yesus. Kembalilah mereka dengan cemas ke Yerusalem dan selama tiga hari, mereka merasakan kegelapan pikiran, hati dan iman. Setelah tiga hari itu, mereka menemukan Yesus di dalam Bait Allah di tengah-tengah alim ulama. Semua orang sangat heran akan kecerdasan dan segala jawab yang diberikan Yesus.
Kita bisa mengalami malam gelap rohani yang dialami Maria. Malam gelap yang menyelimuti kegelapan hati yang dingin dan pedih. Seolah-olah Tuhan tidak hadir lagi, tak ada seorang pun yang mengerti dan terasa sendirian. Suatu malam gelap iman yang membersihkan jiwa dari segala sesuatu yang Bukan Allah, yaitu ego-ego, keangkuhan, nafsu-nafsu tak teratur, dan dosa-dosa. Siapkah Anda mengalami proses pemurnian malam gelap jiwa?
4. Maria Teladan Orang Beriman yang Melakukan Kehendak Allah: Siapakah Anda bagi Yesus? ( Markus 3:31-35)
Maria dan saudara-saudara Yesus mau menemui Yesus yang sedang mengajar di rumah ibadat. Mereka berdiri di luar, lalu orang-orang yang duduk mengelilingi Yesus mengingatkan ibu dan saudara-saudara-Nya yang datang. Yesus dengan bijaksana mengatakan, ‘inilah Ibu dan saudara-saudaraku: Barangsiapa melakukan Kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Luk 3:35).’ Siapakah Anda bagi Yesus? Sudahkah Anda melakukan Kehendak Allah atau Anda masih mencari keinginan diri sendiri? Bunda Maria menunjukkan kerendahan hati, ketaatan dan pengurbanan yang besar untuk melakukan kenehdak Allah sebagai Bunda, Perantara Segala Rahmat kepada Tuhan Yesus Kristus.
5. Maria Menjadi Perantara Rahmat : Pesta Perkawinan di Kana(Yoh 2:1-11)
Bunda Maria, Yesus dan para murid menghadiri pesta perkawinan di Kana. Para pelayan pesta meminta bantuan Bunda Maria untuk menyampaikan kepada Yesus Kristus karena mereka kehabisan anggur pesta. Tanpa anggur tidak ada pesta perjamuan, anggur lambang sukacita kedatangan mesias, lambang pengharapan dan keselamatan, saat itulah terjadi keadaan kritis. Atas imannya yang besar, Maria menyampaikan kepada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur. Maria mengatakan kepada para pelayan pesta, “apa yang dikatakan (Yesus) kepadamu, perbuatlah itu! (Yoh 2:5).” Mukjizat air menjadi anggur yang terbaik dilakukan Yesus Kristus. Maria memang manusia biasa sekaligus pilihan Allah yang dipakai menjadi perantara rahmat bagi manusia. ‘Tota Christi Per Mariam, artinya melalui perantaraan Maria, kita sampai para Yesus seutuhnya.’
6. Sikap Kemuridan Maria: Dari Aksi Menuju Kontemplasi (Luk 2:19.39-40.50-52)
Pada umumnya orang suka berdoa, memohon supaya apa yang disampaikannya kepada Tuhan didengarkan. Manusia suka berbicara dan ingin selalu didengarkan, lalu ia mengatakan, “Dengarlah Tuhan, hamba-Mu berbicara.” Sebaliknya sikap Maria sebagai murid lebih banyak mendengarkan, merenungkan dan melaksanakan Sabda Allah daripada berbicara. Kita ingat bagaimana Samuel menjawab panggilan Tuhan, “Berbicaralah Tuhan, hamba-Mu mendengarkan! ( 1 Sam 3:9.10)” Demikian juga Bunda Maria tidak memusatkan perhatiannya pada ‘aku yang berbicara pada Allah’, tetapi ‘aku yang mendengarkan Allah berbicara.’ Tuhan Yesus lebih memuji Maria yang duduk mendengarkan Yesus, sebab Maria ‘memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil daripadanya’ daripada Marta yang sibuk dengan banyak perkara.
Meneladan Bunda Maria berarti hidup dengan lebih sadar dan penuh perhatian serta selalu berusaha untuk memberi ruang bagi Sabda Allah. Sabda Tuhan, “Berbahagialah yang mendengarkan Sabda Allah dan hidup sesuai dengannya.” Inilah pergeseran dari aksi menuju kontemplasi.
C. Tahap Ketiga: Tahap Melampaui Perjalanan, Tahap Transformasi Dalam Kristus
Tahap transformasi dalam Kristus, yaitu perubahan dari dimensi kontemplasi ke dimensi mistik. Tahap ini melampaui kontrol manusia karena ini semata-mata anugerah Allah. Kita hanya dapat mempersembahkan hati yang murni kepada Allah. Kita dapat ‘mengandung Roh Kudus’ dalam hati kita dan mengikuti jejak Kristus. Kita dapat hidup dengan Maria-Yesus dan mencintai mereka, tetapi kita tak dapat mengusahakan kehadiran mereka. Cinta Yesus kepada Maria melampaui pengalaman manusiawi kita yang terbatas. Perubahan (transformasi) Maria melalui proses yang tidak gampang dan sekali jadi, melainkan melewati perjalanan batin sepanjang hidupnya.
1. Makna Salib Bagi Maria: Pengalaman Padang Gurun (Yoh 19:25-27)
Pengalaman mistik Bunda Maria adalah pengalaman salib. Bunda Maria mengikuti dan memandang jalan salib Puteranya dengan mata kepala, hati dan jiwanya. Yesus Puteranya yang terkasih, dijatuhi hukuman mati, difitnah, dicemooh dengan kata-kata kasar, diludahi, ditampar, ditinggalkan para muridnya. Yesus memanggul salib, jatuh, dan wafat di kayu salib. Penderitaan seorang ibu yang sungguh luar biasa dashyat melihat putera satu-satunya diperlakukan secara kejam. Hati Maria seperti tertusuk pedang yang amat dalam. Pengalaman menyakitkan ini seperti halnya pengalaman padang gurun rohani. Di padang gurun kita dicobai, diganggu, kesepian, gersang, kering, tak berdaya, menakutkan, ingin menghindari, tak ada yang peduli dan membantu. Justru pada saat itulah Tuhan mau memurnikan kita dari ego kita, kepalsuan dan topeng kemunafikan kita, dari keangkuhan rohani, kerakusan rohani, dan segala sesuatu yang menghalangi kita lebih dekat dengan Allah. Padang gurun ini adalah suatu proses penelanjangan diri yang terus menerus dan tak pernah berakhir: mempersembahkan kepada Allah, hati yang murni sehingga dapat merasakan kehadiran ilahi tak hanya setelah kematian tetapi selama hidup.
2. Kebangkitan (Paska): Masuk Padang Gurun Cinta
Maria memasuki padang gurun cinta di mana Kasih Allah mengalir dalam hidup bersama Yesus, Puteranya. Suatu cara baru dari kehidupan dianugerahkan. Kehausan akan Allah dapat dipenuhi oleh anugerah cinta. Kepenuhan ini membangkitkan suatu kerinduan, suatu kehausan yang mendalam. Proses kerinduan dan kepenuhan ialah proses dari kasih yang tak pernah selesai. Pemenuhan yang mendalam akan dicapai ketika kita mati secara fisik untuk hidup secara penuh dalam Yesus dan dalam kasih dari Bapa di surga. Sekali kita mengalami kuasa kehadiran-Nya yang penuh kasih dalam hidup ini, kita dapat memberikan diri secara penuh untuk pengosongan diri. Salib dan kematian Yesus dapat dianggap sebagai masa transisi dari perjalanan-Nya masuk ke dalam padang gurun cinta. Kebangkitan berarti masuk ke dalam padang gurun cinta. Yesus mati sebagai manusia untuk masuk ke dalam kehadiran ilahi. Ia mati untuk hidup dalam Allah. Kematian diri sendiri dan kelahiran kembali dalam Tuhan terjadi bersamaan secara sempurna. Maria berjalan bersama Yesus ke dalam padang gurun, di mana tidak ada jalan sama sekali (buntu). Namun ketika Maria berdiri di kaki salib Yesus, ia memberi kesaksian apa yang melampaui perjalanan rohaninya: padang gurun kasih yang melimpah. Saat penyaliban Yesus adalah saat peninggian-Nya.
3. Kenaikan Yesus dan Turun-Nya Roh Kudus (Kis 1-2)
Tahap transformasi Maria adalah pengalaman akan turunnya Roh Kudus bersama para rasul yang lain. Ia sendiri mengalami apa yang terjadi pada Pentakosta. Ia juga dipenuhi dengan Roh Kudus dan mengidungkan madah keagungan Tuhan. Ia menghidupkan kembali peristiwa Kabar Gembira Malaikat Gabriel dan perasaan yang dulu ia alami sekarang bergema lagi dalam hatinya. Maria telah membuka suatu jalan kerinduan semua manusia: suatu kerinduan yang dibangunkan dengan mau menerima Allah menjadi manusia, mengandung-Nya karena Roh Kudus, lalu dimurnikan ketika Yesus masih hidup dan dipenuhi dalam Kasih Allah yang tak hentinya mengubah selama hidupnya dan sampai akhir hidupnya di dunia.
4. Kematian dan Pengangkatan Maria ke surga (Why 12:1-6)
Bunda Maria diangkat ke surga karena mengambil bagian dalam kemuliaan Putera-Nya, Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mulia dan duduk di sebelah kanan Bapa. Karena kesetiaannya pada Yesus, Maria dianugerahi rahmat istimewa oleh Allah di surga. Pengangkatan Maria ke surga berarti kepenuhan hidup yang dipenuhi oleh Kehadiran Allah. Pengangkatan ke surga dapat dimengerti dalam terang Kebangkitan Yesus. Pada akhir hidupnya di dunia, perjalanan untuk mencari dan menemukan Allah sampai pada titik dalam Kasih Allah yang abadi. Dengan merayakan pengangkatan Maria ke surga (dirayakan 15 Agustus), Gereja mengenang bahwa seperti Yesus, Maria juga hidup dalam Kasih Allah dengan tubuh dan jiwanya, serta menjadi Ratu di surga dan di bumi. Dengan mengikuti teladan hidup Maria, kita berharap ikut serta suatu saat dalam kehidupan abadi dalam hadirat Allah Mahatinggi. Siapkah Anda menerima karunia istimewa itu kelak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: