Kepenuhan Hidup Kristiani

KEPENUHAN HIDUP KRISTIANI: HIDUP HARMONIS

 

Kita ingin hidup berbahagia, ber-makna, dan mencapai kepenuhan hidup. Hal ini dapat kita capai hanya jika kita ingin berdamai dengan diri kita sendiri. Kita sunguh merasa berdamai di pikiran dan di hati saat kita berdamai dengan Tuhan, dengan sesama, dengan diri sendiri, dan dengan alam ciptaan.

Berdamai dengan Diri Sendiri
Kita ingin menjadi orang yang penuh cinta, baik, dan ramah. Kita ingin diterima, dicintai dan pantas untuk mencinta. Namun, kita sering meng–alami banyak fustrasi dan kegagalan untuk mencapai diri seperti yang kita inginkan. Walaupun kita telah berusaha sebaik mungkin, namun rasanya kita hanya mencapai kemajuan yang tidak berarti. Kita lebih mudah untuk meraih prestasi secara professional dan sosial daripada meraih kepenuhan hidup yang lebih kristiani.
Petunjuk bahwa kita berdamai de-ngan diri kita sendiri adalah apabila kita mampu menerima diri kita sebagai–mana adanya, dengan segala kelebihan dan kemampuan kita dengan segala keterbatasan dan kelemahan kita. Kita akan mengalami kedamaian yang lebih besar jika kita dapat menerima orang lain secara apa adanya. Kedamaian akan terasa dalam hati saat kita me–ngakui rahmat Tuhan yang melimpah kepada kita. Jika kita sering berdoa, bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan anugerah-Nya yang tak terhitung, kita akan menemukan kedamaian di dalam hati. Ketika kita berdamai dengan diri sendiri, kita akan lebih mudah tersenyum, lebih sabar mendengarkan, menjadi semakin bertanggung jawab, dan terlibat atas kebahagiaan orang lain. Jika kita berdamai dengan diri sendiri, kita tidak mudah bersikap berang terhadap orang lain yang tidak setuju dengan kita. Kita dapat bersabar dan menerima kritikan dengan tenang. Kedamaian menjadikan kita bahagia. Kedamaian menjadikan kita pribadi yang gembira. Damai dalam pikiran dan hati memampukan kita untuk selalu men–syukuri kehidupan dengan segala dinamikanya. Kedamai–an melenyap–kan segala ketakutan dan kekhawatiran yang menggerogoti dan bahkan meram–pok dari kita kebahagia–an yang Tuhan kehendaki.

Berdamai dengan Sesama
Kita memperoleh kedamaian dengan orang lain saat kita mencoba untuk melaksanakan perintah Kristus, yaitu agar kita saling mencintai seperti Ia mencintai kita (lih. Yoh 13:34). Bila kita ingin mencintai orang lain dengan tulus, kita harus menerima dia apa adanya. Kita mengharapkan yang terbaik bagi–nya. Cinta yang tidak berpusat pada diri sendiri memandang kebaikan dan kelebihan orang lain dan membantu kita untuk mengakui orang lain sebagai makhluk Tuhan yang unik dan istimewa, mencintai dia dengan cinta yang tak bersyarat. Cinta yang sejati adalah penerimaan, bantuan yang tulus, ramah, baik hati, mengampuni, sopan, dan murah hati. Tuhan Yesus memerikan kepada kita motivasi yang kuat untuk mencintai orang lain ketika Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melaku–kannya untuk Aku” (Mat 25:40).
Cinta kristiani mengajarkan kepada kita agar kita selalu bertindak positif dalam berbagai kesempatan dan cara kepada sesama kita. Kita harus bersi–kap ramah dan bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Perintah agar kita mencintai sesama seperti kita mencintai diri kita mungkin singkat dan sederhana. Namun jika kita jujur, kita akan menghadapi banyak kesulitan. Salah satu sebabnya adalah kita tidak sungguh mencintai diri kita apa adanya. Kita merasa sakit menyadari kesa–lahan, kegagalan, kedosaan, dan ketidakpercayaan kita. Langkah utama agar dapat berdamai dengan sesama adalah berdamai dengan diri sendiri. Caranya, mengingat kembali betapa Tuhan mencintai diri kita dengan cinta-Nya yang tanpa syarat. Kriteria dan ketentuan cinta kita adalah cinta Tuhan sendiri yang tanpa syarat itu. Tuhan mencintai kita sebagaimana kita berada sekarang ini dan di sini, tanpa memper–hitungkan apa yang terjadi di masa lalu. Jikalau kita menyadari hal-hal ini, kita akan semakin mudah untuk berdamai dengan sesama. Secara bertahap, kita akan mencintai orang lain tidak hanya dengan keterbatasan-keterbatasan kita, cinta manusiawi kita, tetapi dengan cinta Tuhan sendiri. Tuhanlah yang mengisi cinta dan hati kita dengan cinta dan hati-Nya.

Berdamai dengan Tuhan
Hubungan kita dengan Tuhan tercer–min dari naik dan turunnya pengalaman damai sejati dalam pikiran dan hati kita. Kedamaian adalah buah dari hubungan pribadi dalam empat macam tingkat bubungan, yaitu hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama, dengan diri sendiri, dan dengan alam ciptaan. Kita harus berdamai dengan Tuhan, sesa–ma, diri sendiri, dan alam ciptaan.
Kedamaian pertama-tama merupa–kan buah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Kita memperdalam dan mem–perkaya hubungan kita dengan Tuhan. Caranya dengan selalu menyadari cinta Tuhan yang tanpa syarat dan yang tak pernah berubah kepada kita. Cinta Tuhan tidak pernah memperhitungkan siapa kita dan apa yang telah kita perbuat. Tuhan memberikan cinta kreatif-Nya, kasih pengampunan-Nya yang membebaskan sehingga kita sendiri mampu untuk meneruskannya kepada sesama. Tuhan adalah kasih. Tuhan adalah mahakasih dan satu-satunya sumber kedamaian. Ia disebut Allah perdamaian. Ia menjanjikan keda–maian bagi orang yang mencari diri-Nya.
Ia selalu mengulurkan tangan-Nya untuk merangkul kita, untuk menuntun dan membimbing kita. Tuhan selalu menerima kita dengan penuh cinta, apa pun dan bagaimana pun keadaan kita. “Jangan takut, sebab Aku telah mene–bus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (lih. Yes 43:1). Tuhan Yesus meyakinkan kita bahwa Ia akan mengampuni siapa pun yang datang kepada-Nya. Pengampunan-Nya akan mendatangkan kedamaian yang tak dapat diberikan oleh dunia.

Berdamai dengan Alam ciptaan
Sebagai bagian dari keseluruhan jagat raya, kita hendaknya memperbaiki pandangan dan sikap terhadap alam. Kita musti bersahabat dengan alam. Kita dan alam saling berhubungan dan saling tergantung. Kita dipercayai untuk mengelola kekayaan alam secara bijaksana dan bertanggung jawab. Kita harus mengembangkan sikap penghar–gaan dan tanggung jawab penuh atas tindakan kita sehubungan dengan keadaan alam. Kita harus mampu menyadari, mengontrol dan membatasi diri dalam menyangkut alam. Kita mengakui adanya nilai di dalam dirinya sendiri dalam setiap makhluk ciptaan itu. Sebagai orang beriman, iman akan penciptaan oleh Tuhan akan mewarnai pandangan dan sikap kita terhadap seluruh ciptaan Tuhan. (sort)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: