BERITA DARI SINODE-V KAM 1-5 Desember 2008

 KABAR DARI
SINODE-V KAM
1-5 Desember 2008
Di Nagahuta, P. Siantar

 Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya, apa saja yang dibahas dan dibicarakan dalam Sinode yang berlangsung selama lima hari itu. Kendati agak terlambat, kami mencoba untuk memaparkan bagaimana berlangsungnya sinode tersebut. Cukup banyak hal yang dibicarakan dan direkomendasikan sinodan (peserta sinode)kepada bapa Uskup yang menjadi arah dan kebijakan hidup menggereja ke depan di keuskupan kita.
 
SERBA-SERBI

Sebelum kita masuk ke dalam pokok bahasan di Sinode, mungkin alangkah baik jika kita utarakan dulu beberapa hal selama berlangsungnya sinode tersebut.
 Selama berlangsungnya sinode, doa dan sidang merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Doa dalam hal ini Ibadat dan Ekaristi merupakan satu kesatuan dengan sidang atau pembahasan topik-topik yang diusung dalam sinode. Peserta tidak bisa hanya hadir di dalam sidang saja, tetapi harus juga hadir di dalam Ibadat dan Ekaristi. Di sini tidak ada yang terkecuali baik Uskup, Imam maupun umat, baik panitia maupun peserta. Semua harus bersama-sama dalam berdoa dan bersidang. Hal ini mau menekankan bahwa apa yang dihasilkan di dalam bersidang mesti berdasarkan hasil permenungan dalam doa. Di sini bukan hanya ketajaman otak atau pikiran yang dibutuhkann, tetapi juga harus dibarengi dengan ketajaman hati dan buah doa.
Mungkin sikap seperti ini menarik untuk kita terapkan di paroki maupun stasi kita, terlebih di saat kita bersermon atau bersidang untuk membicarakan kehidupan paroki atau stasi kita.

  Ikrar Setia Hingga Akhir

 Pada pembukaan sinode, usai perayaan Ekaristi dan mohon turunnya Roh Kudus atas peserta sinode, bapa Uskup memanggil nama satu persatu peserta sinode dan sinodan menjawab: “saya hadir”. Dalam pemanggilan nama yang hampir 300 orang ini, bapa Uskup meminta ikrar kesetiaan dari peserta sinode untuk mengikuti seluruh jalannya rangkaian sinode sampai akhir. Peserta yang tidak bisa hadir sampai selesai sinode dipersilahkan untuk meninggalkan sinode. Peserta yang tidak terdaftar dalam SK peserta sinode juga dipersilahkan untuk pulang.
Ketat ya? Bagaimana dengan sermon-sermon kita selama ini di paroki kita? Mungkinkah hal ini kita terapkan? Sudah merupakan kebiasaan bagi kita mengikuti sermon hanya sepenggal-sepenggal, separuh waktu, mungkin hal ini bisa menjadi bahan refleksi bagi kita.

 

Disiplin: Duduk di Kursi yang Sama selama Sinode, wajib Badname

Ketika peserta masuk ke dalam sidang, setiap peserta duduk di kursi yang sudah diberi label nama peserta sendiri lengkap dengan botol Aqua isi ulang yang diberi label nama peserta itu sendiri juga. Peserta juga diwajibkan memakai tanda pengenal (badname)selama sinode baik ketika sidang maupun ibadat dan Ekaristi. Memang hal ini membantu peserta untuk semakin saling mengenal, tetapi juga sekaligus mengikat peserta jaim (menjaga image)selama sinode untuk senantiasa disiplin: tidak terlambat, tidak keluar-masuk dari ruang sidang. Selama bersidang baik di kelompok maupun di pleno semua perokok baik yang berat seperti penulis ini maupun ringan bisa menahan diri tidak merokok. Kog bisa ya? Selain itu, juru foto juga disebar di setiap penjuru ruang sidang, yang senantiasa siap untuk mengabadikan setiap kejadian dan perilaku sinodan. Peserta yang mengantuk pasti akan menjadi liputan menarik bagi juru foto dan biasanya dipublikasikan lengkap dengan komentarnya lewat jurnal harian sinode Berhasil (Berita Harian Sinode Kelima)yang dibagi-bagikan secara gratis setiap pagi bagi setiap sinodan usai perayaan Ekaristi.
Kesetian dan disiplin tidak hanya dituntut dari peserta sinode, panitia juga senantiasa siap melayani sinodan. Panitia juga melaporkan secara terinci dan transparan setiap biaya yang dikeluarkan setiap hari selama sinode.
Memang habitus baru dicoba diterapkan baik oleh panitia maupun peserta dalam sinode ini, bagaimana dengan kita di paroki dan stasi kita? Masihkah habitus lama yang bercokol?
Para Pastor Wajib lewat Bus Antar-Jemput
 
Peserta yang berdomisili di sekitar Siantar tidak diperbolehkan menginap kembali ke rumah/biaranya kendatipun dekat. Peserta wajib menginap di tempat yang sudah ditentukan oleh panitia. Karena keterbatasan daya tampung kamar tidur RPF Nagahuta sebagai tempat sinode, sebagian besar para pastor menginap di Monte Luco (Biara Suster FCJM), Bina Samadi (Biara Suster KSFL) dan St. Vincentius (Biara Suster KYM). Mereka diantar jemput dengan Bus VIP Intra setiap pagi dan malam. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan sendiri. Hal ini tampak agak ‘berat’ bagi beberapa pastor yang sudah terbiasa dengan tidur siang. Kali ini, mereka tidak punya tempat untuk meletakkan kepala untuk tidur siang. “Hukuman ya pastor!”, kata seorang peserta awam meledek pastor teman sekelasnya dulu di Seminari.

TOPIK-TOPIK BAHASAN

Topik-topik bahasan ini, karena keterbatasan tempat, belum bisa kita uraikan satu per satu secara mendetail. Di sini hanya kita sebutkan topik-topiknya saja.
Setelah mengumpulkan dan mempelajari tanggapan dari semua kalangan umat beriman, berupa simpul jaring opini yang sudah diedarkan, panitia persiapan sinode mendaftarkan topik-topik relevan dan diserahkan kepada bapa Uskup. Akhirnya bapa Uskup menetapkan 15 topik berikut sebagai bahan bahasan Sinode V KAM:
1. Pembinaan Keluarga Katolik
2. Dewan (Pastoral) Paroki
3. Pemberdayaan Komunitas Lingkungan dan Kelompok Kategorial
4. Pendidikan Liturgi: Memahami, Mengalami, Menghayati
5. Pelayanan dan Penghayatan Sakramen, khususnya Tobat dan Pengurapan Orang Sakit
6. Identitas Imam dalam Bingkai Liturgi
7. Pembinaan Pengurus Gereja
8. Gerakan Evangelisasi
9. Imam sebagai Pembina dan Pewarta Iman
10. Pelayanan Gereja di Bidang Pendidikan
11. Pelayanan Gereja di Bidang Sosial Ekonomi
12. Peran Tarekat/Lembaga Hidup Bakti dalam Pelayanan Gereja
13. Membangun Dialog Kehidupan
14. Advokasi Hukum dan Kaderisasi Politik
15. Pembenahan Kuria dan Komisi-Komisi KAM.
Berdasarkan topik-topik itu, semua anggota sinode dibagi dalam 15 kelompok. Dari kelima belas kelompok ini kemudian disatukan menjadi 5 subpleno berdasarkan lima (panca) tugas Gereja. Dari lima kelompok ini kemudian menjadi pembahasan dalam pleno dan disimpulkan sebagai rekomendasi dan usulan kepada bapa Uskup. Rekomendasi dan usulan ini diserahkan secara simbolis oleh perwakilan-perwakilan umat kepada Uskup dalam ibadat penutup sidang. Usai ibadat, kemudian peserta sinode berangkat ke GOR P. Siantar untuk bersama-sama dengan seluruh Ketua Dewan Stasi se KAM, para undangan dan umat lainnya mengikuti Misa Meriah Penutupan Sinode V Keuskupan Agung Medan. Pada penutupan ini Semua para pengurus Gereja Se- Keuskupang Agung Medan diundang, para utusan para pengurus Gereja Paroki Sidikalang juga ikut hadir dalam pentupan tersebut yang berjumlah 45 orang. Dalam Pentupan tersebut hadir juga undangan pihak pemerintah yang secara khusus naik Helikopter menghadiri penutupan Sinode ini seperti Gubernur Sumut, Syamsul Arifin dan Kapolda Sumut beserta beberapa Bupati.
(Sorang Tumanggor, peserta Sinode V KAM)

 

Doa dan Sidang satu Kesatuan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: